Jika di kaji secara kebahasaan, ungkapan Pertamina “Kerja Keras Adalah Energi Kita”, ini merupakan suatu ungkapan yang sarat makna.Saya menguraikannya kedalam tiga makna yang positif dari ungkapan tersebut.
Pertama Pertamina dituntut untuk memiliki kemampuan untuk bekerja secara terus-menerus untuk masyarakat, yang kedua Pertamina dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, dan yang ketiga Pertamina mampu menunjukkan kualitas yang bernilai tinggi sehingga menjadi sesuatu yang patut dibanggakan di Indonesia maupun dunia.
Dari ketiga makna ungkapan yang saya uraikan tersebut, kita sebagai masyarakat, bisa melihat beberapa program nyata dari Pertamina, seperti Program Konversi minyak tanah ke elpiji yang bertujuan untuk menghemat energi bahan bakar minyak, merupakan sesuatu prestasi yang pantas di banggakan, walaupun mungkin belum terealisasi secara menyeluruh kepada masyarakat. Saya pikir ini merupakan suatu tonggak awal, yang memerlukan waktu yang cukup lama.
Selain itu program lain yang telah bisa dinikmati yaitu dengan peningkatan pelayanan di jejaringan SPBU Pertamina dengan lebih akurat, dengan menerapkan Program Pertamina "Pasti Pas" dengan pelayanan yang lebih ramah dan terpercaya. hal ini menambah lagi deretan prestasi yang telah ditunjukan oleh Pertamina untuk memberikan kepuasan kepada konsumennya (masyarakat).
Dalam kecepatan informasi mengenai produk, Pertamina telah menyatukan elemen jejaringan sosial meliputi twitter dan facebook, selain situs web korporat di pertamax.Pertamina.com. hal ini sangat bermanfaat untuk menghubungkan konsumen dengan pihak Pertamina itu sendiri. Sehingga pelanggan dapat secara cepat mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan.
Sebagai masyarakat, saya berharap kepada Pertamina di ulang tahunya yang ke 52 ini mampu meraih prestasi yang lebih tinggi lagi, dan semakin meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Mari kita dukung Pertamina, dalam dalam tekadnya“Kerja keras adalah energi kita”
Pernahkah anda menyadari, jika seorang penulis adalah tangan kanan Tuhan? Tangan-tangan yang memberikan kesejukan pada hati dan pikiran orang lain. Ketika seseorang yang membaca tulisan anda terhibur, mendapatkan suatu pengetahuan, menemukan suatu ide atau pendapat, hingga dia mengalami suatu perubahan, maka pada saat itulah anda menjelma menjadi tangan-tangan Tuhan.
Perkataan Rainer M Rilke itulah yang membuat saya sadar akan puisi yang mampu memberikan kebahagiaan. Hal itu pula yang saya alami, ketika kesedihan melingkupi hidup, saya mencoba menuliskan beberapa kalimat kata yang mampu melukiskan kesedihan itu, maka kebahagian itu datang menghampiri. Ketika kebahagiaan menemui saya. saya kembali menuliskannya dalam beberapa kalimat, kebahagiaan itu semakin lengkap saja. saatitulah saya sadar bahwa puisi itu adalah sumber kebahagiaan buat saya, sepertinya buat sobat-sobat juga sama.
Salam Sukses Ferdinan De J Saragih, seorang yang sedang dalam proses menulis. Blognya Raya Post di http://www.rayapost.blogspot.com/
di antara tawa ada dukaku menyelinap pada hari penuh dari cinta lesu dalam congkak hatiku bergelora mencintaimu dikejauhan aku mengagumimu karena cintaku tak akan berhenti mengalir jadi tolong temui aku dalam mimpimu di sana kuungkapkan segala cinta malam yang jadi saksi
Setia Budhi, 2009
Mawar Putih
indah gairahku saat itu saat kubelai kelopakmu yang ranum menuntunku pada embun putih
telah lama semua berlalu aku kembali dari perjalanan panjang menuju kebersamaan lagi
kau tak seperti dulu lagi kumbang-kumbang menghinggapi berkeliaran di setiap kelopakmu
dalam kegelapan kau menghampiriku membawa cintamu yang dulu
kau telah berubah apakah kau masih suci? malam terlewati dalam keheningan hingga pagi
Setia Budhi, 2008
Ferdinan De J Saragih lahir di Sigodang, Sumatra Utara, 4 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Penulis, blogger (www.rayapost.blogspot.com). Puisinya tergabung pada antologi Karnaval Kupu-kupu dan Penyair Muda.
persetan dengan penguasa Negri kesabaranku sudah habis detik ini tidak lagi kubiarkan tikus-tikus itu berkeliaran aku sudah muak mataku meradang melihatnya berkeliaran di dalam selokan emas murni jerih payah rakyatku sendiri
kita perangkap mereka jangan sampai ada yang lolos sudahi bila mereka berontak jika bertobat tetap masukkan ke dalam jeruji besi aku sudah muak pasti kau juga sama sepertiku bukan?
Setia Bhudi, 2008
Kekuatan Malam
malam ini hanya sebuah rasa beku dalam ruang melanturkan lukisan kedengkian tadi siang amarah dalam jiwaku reda dibekukan dinginnya malam dalam diam, aku berlamun lagi
petir bergemuruh bergulung-gulung tanpa henti bertalu-talu petir telah menggantikanku mengelupas kedengkian kepada pemimpin Negri yang tertangkap siang tadi
beranjaknya malam menjadi pagi aku tetap tertegun dalam diam butiran hujan tetap saja berjatuhan aku terhenyak dari sebuah berita di TV pemimpin itu telah meninggal penyakit jantungnya kumat oleh petir yang bertalu-talu malam tadi
Bandung, 2008
Ferdinan De J Saragih, dilahirkan di Sigodang 04 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Menulis Puisi dan Cerpen. Karyanya telah dimuat di media Nasional dan Lokal, seperti; Sindo, Jurnal Bogor, Radar Banten, Riau Pos, Kompas.com. Puisinya tergabung pada antologi Karnaval Kupu-kupu 2008 dan Penyair Muda 2009. Pemilik Blog Raya Post di www.rayapost.blogspot.com.
Seorang Ibu PRITA yang memiliki dua anak kecil, harus berurusan dengan hukum. Dia dipisahkan dengan anaknya yang masih menyusui, hanya karena mengutarakan keluhan ataupun pendapatnya. Sungguh ini hukum yang tak memiliki hati nurani. Coba kita bayangkan tangisan-tangisan ibu ini. itu adalah tangisan kesedihan. Kerinduannya kepada kedua anaknya, kebebesan yang direnggut darinya. Ini tak patut dibiarkan bung.......
Seandainya saja ada seorang kader capres/cawapres kita yang berani untuk menyatakan kebebasan untuk ibu ini, saya yakin dialah pemimpin yang benar-benar memiliki hati nurani, seorang yang tegas dan pasti berjalan dalam kebenaran.
Jika benar ada, saya salah satu orang yang akan mendukungnya. (Ferdinan De J Saragih)
Masa remaja merupakan masa yang unik dan khusus yang ditandai oleh perubahan-perubahan dan perkembangan tertentu yang tidak terjadi dalam tahap-tahap lain dalam rentang kehidupan manusia. Perubahan dan perkembangan tersebut, antara lain, berupa pembentukan kepribadian remaja yang perlu diarahkan menuju kepribadian yang memiliki budaya kreatif dan positif.
Salah satu upaya pengarahan menuju kepribadian berlandaskan budaya kreatif dan positif itu adalah melalui budaya menulis, terutama menulis hal-hal yang berkaitan dengan dunia remaja tersebut. Salah satu kegiatan menulis yang kini sedang digandrungi oleh kaum remaja adalah menulis cerita pendek (cerpen). Menulis cerpen mengenai kehidupan kaum remaja, oleh remaja, dan untuk remaja tentunya akan menjadi sebuah pengalaman yang mengasah kreativitas sekaligus menyalurkan energi dan daya ciptanya secara positif.
Sehubungan dengan hal tersebut, Balai Bahasa Bandung pada Tahun Anggaran 2009 mengadakan kegiatan Lomba Penulisan Cerita Pendek Remaja Se-Jawa Barat Tahun 2009.
Semoga kegiatan ini menjadi ajang kreativitas remaja Jawa-Barat untuk melahirkan cerpen-cerpen remaja unggulan.
Tujuan
Lomba ini bertujuan untuk
meningkatkan minat remaja terhadap sastra;
membangkitkan daya cipta dan kreativitas remaja;
menumbuhkan sikap dan cinta remaja terhadap karya sastra;
Mengembangkan kegiatan menulis kreatif di kalangan remaja.
Peserta
Lomba penulisan cerita pendek remaja ini terbuka bagi remaja yang berusia 16--20 tahun di seluruh wilayah Jawa Barat, baik remaja yang duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat atas, remaja yang duduk di perguruan tinggi, maupun remaja yang putus sekolah.
Persyaratan
Persyaratan mengikuti Lomba ini, antara lain, sebagai berikut.
Tema cerpen bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpontensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.
Cerpen harus asli (bukan saduran atau terjemahan), belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba apa pun.
Panjang karangan 8--10 halaman.
Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik rapi dengan jarak dua spasi di atas kertas HVS ukuran A4, dan tidak bolak-balik.
Peserta harus menuliskan alamat dengan jelas agar mudah dihubungi melalui pos, telepon, dan faksimile.
Cerpen yang masuk kepada Panitia menjadi milik Panitia dan tidak akan dikembalikan.
Cerpen dikirim langsung ke Balai Bahasa Bandung, Jalan Sumbawa nomor 11, Kode Pos 40113 paling lambat 21 Juli 2009 (cap pos). Cerpen yang dikirimkan kepada Panitia harus dilampiri biodata dan fotokopi KTP/kartu pelajar/surat keterangan lainnya yang menyatakan bahwa peserta masih dalam usia remaja.
Penilaian
Penilaian Lomba sebagai berikut.
Penilaian akan dilakukan secara berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat nasional.
Naskah unggulan tingkat provinsi (balai/kantor bahasa) akan dikirimkan dan dinilai di tingkat pusat/nasional untuk menentukan juara nasional.
Penilaian dan penentuan pemenang dilakukan oleh dewan juri.
Penilaian cerpen mencakup isi, teknik penulisan, bahasa, dan gaya.
Hasil keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
Pemenang cerpen ini terdiri atas pemenang I, II, dan III, serta Harapan I dan II.
Pengumuman pemenang tingkat provinsi dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2008.
Hadiah
Pemenang akan mendapat uang tunai masing-masing sebagai berikut.
Pemenang I: Rp 1.500.000,00 + piala + paket buku + piagam
Pemenang II: Rp 1.000.000,00 + piala + paket buku + piagam
Pemenang III: Rp 750.000,00 + piala + paket buku + piagam
Harapan I: Rp 600.000,00 + piala + paket buku + piagam Harapan II: Rp 500.000,00 + piala + paket buku + piagam
Media masa adalah salah satu wahana untuk mempublikasikan tulisan kita. Nah, pertanyaannya sekarang. Bagaimana caranya supaya tulisan kita di muat pada salah satu media yang kita tuju.
hal pokok dalam pengiriman tulisan ke suatu media adalah, kita harus mengetahui dulu bagaimana kriteria tulisan yang diinginkan oleh media tersebut. Karena kebanyakan media di indonesia meloloskan sebuah tulisan jika menurut media itu bagus (saya menyebutnya politik media). Misalnya, bersifat kedaerahan atau nasional, khusus remaja atau khalayak umum, gaya bahasa yang bagaimana, penulis besarkah dia? dan masih banyak lagi.
Hal inilah memang sering berbenturan dengan seorang penulis. Perbedaan gaya seorang penulis dengan kriteria sebuah media memang tak dapat di hindarkan. tapi Jika anda seorang penulis seperti halnya bunglon. Hal ini tidak menjadi masalah. Namun bagaimana jika kita telah memiliki gaya tersendiri? Seperti saya misalnya? Apakah selamanya tulisan kita tidak akan pernah di muat di suatu media?
Sangat menyedihkan. Saya tidak memaksa anda menjadi bunglon. Terus sajalah berkarya, karena media bukan menjadi jaminan kualitas tulisan anda. Saran saya cobalah cari media yang cocok dengan gaya anda/keinginan anda. Karena jika anda terus memaksakan, hanya sakit hati yang anda dapatkan. Tapi perlu anda ketahui bahwa di indonesia ini ada media besar yang begitu terbuka kepada semua kalangan penulis. Kita doakan saja supaya media ini selalu memegang semua haluan.
Mitos bahwa “koran besar hanya bisa di tembus penulis besar”. Mungkin ada benarnya. Saya juga merasakan hal ini. tapi jika anda berhenti untuk berkarya. Kapan anda menjadi penulis besar? Karena semuanya ada waktunya.
Luapan Hati, 2009
“Hidup Penulis Muda”
Ferdinan De J Saragih, Penyair, Cerpenis, Lahir di Sigodang, Sumut, 04 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Tulisannya telah dipublikasikan di berbagai media massa cetak maupun on-line. Bergiat di ASAS UPI Bandung.
-Penggunanan ungkapan atau idiom dalam ranah sastra
-Media yang menggunakan suatu ungkapan yang kurang wajar, misalnya saja bahasa seksis, yaitu bahasa yang mengandung kekerasan simbolik, yang di dalamnya terjadi pemaksaan secara halus posisi subordinasi dan rendah perempuan lewat bahasa (ternoda, tercela, tuna susila, binal, emosional).
-Mensosialisasikan penggunaan ungkapan atau idiom kepada masyarakat oleh pihak-pihak tertentu, misalnya penulis, media masa dan sebagainya
1.signifikansi (kemaknawian) topik dan masalah
supaya masyarakat tidak salah dalam penggunaan atau mengartikan sebuah idiom
2.Susunan penulisan menggunakan “opini penalaran dan gabungan”
Tubuh dan Organ-organ Bahasa
Ungkapan atau Idiom adalah sesuatu yang amat lumrah terdapat dalam semua bahasa-bahasa yang ada di dunia, karna Ungkapan atau Idiom tidak pernah lepas dari setiap masyarakat. Akan tetapi tidak dapat juga dipisahkan antara ungkapan dan Bahasa, karena bahasalah semua pangkal daripada makna-makna yang ada, jadi dapat disimpulkan ungkapan ada sesudah Bahasa ada. “Bahasa membuat kita percaya akan adanya komunikasi. Dan membuat masyarakat mempunyai etika, moral dan estetika, tidak gagap dalam menjalani interaksi sosial”. Ungkap faisal syahreza dalam essainya yang berjudul “Budak Bahasa”.
Bahasa dalam masyarakat adalah “tubuh” itu sendiri, dan makna-makna dalam garapan Semantik sebagai organ-organ yang membuat tubuh itu menjadi tumbuh dan bergerak, seumpamanya manusia.
MenurutFerdinandDeSaussurebahwamaknaadalah "pengertian"ataukonsepyang dimilikiatauterdapatpadasebuahtandalinguistik.Disampingituadajugayang menyatakanbahwamaknaitutidaklaindaripadasesuatu/referenyangdiacuoleh kata/leksem itu. Makna adalah garapan semantik. Makna tersebut dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya MaknaLeksikal,gramatikal,kontekstual, Maknareferensialdannonreferensia, Maknadenotatifdan maknakonotatif, Maknakonseptualdanmakna asosiatif, Maknakatadan maknaistilah, Makna idiomdanperibahasa.
Selain itu semantik juga menelaah relasi makna. Relasi maknaAdalahhubungansecarasemantikyangterdapatantarasatuanbahasayangsatu dengansatuanbahasalainnya. Antara lain: Sinonim, Antonim, Polisemi, Homonimi, Hiponim, Redundansi, Ambiguiti atau Ketaksaan. Sampai kepada perubahan makna, diantaranya makana meluas, makna menyempit, dan perubahan makna total. Hingga pada medan makna dan komponen makna.
Pada tulisan kali ini akan di jelaskan organ yang sangat berperan penting dalam bahasa itu, hingga membuatnya berkembang dan bertumbuh. Yaitu mengenai ungkapan atau idiomitu sendiri, hingga penggunaannya di dalam masyarakat indonesia yang sampai saat ini belum diajarkan kepada masyarakat layaknya penggunaannya dalam berkomunikasi yang seharusnya sangat penting, untuk menjadi penggerak dalam perkembangan bahasa Indonesia.
Ungkapan sangat penting dalam bahasa. Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan serta mendorong perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan kebutuhan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan sehingga tidak membosankan. Tata bahasa ibarat kebun, ungkapan ibarat kembang-kembangnya. Dilihat dari bentuk dan prosesnya.
Abdul Chaer (1994) berpendapat bahwa idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan’ dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal Umpamanya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya’; tetapi, dalam bahasa Indonesia bentuk menjual gigi tidaklah memiliki makna seperti itu, melainkan bermakna ‘tertawa keras-keras’. Jadi, makna seperti yang dimiliki bentuk menjual gigi ialah yang disebut makan idiomatikal. Contoh lain dari idiom adalah bentuk membanting tulang yang bermakna ‘bekerja keras’, meja hijau dengan makna ‘pengadilan, dan sudah beratap seng dengan makna ‘sudah tua’.
Menurut Djoko Saryono, makna idiomatis adalah makna konstruksi yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan atau dijabarkan dari makna unsur-unsur pembentuknya. Contohnya: tanah air ‘ negeri tempat lahir’, besar kepala ‘sombong’, dan mengambing hitamkan ‘menuduh bersalah’.
I.G.N. Oka dan Suparno (1994) menyatakan bahwa makna kias adalah makna yang sudah menyimpang dalam bentuk ada pengiasan hal atau benda yang dimaksudkan penutur dengan hal atau benda yang sebenarnya.
Jadi secara umum ungkapan berarti gabungan kata yang memberi arti khusus atau kata-kata yang dipakai dengan arti lain dari arti yang sebenarnya. Ungkapan dapat juga diartikan makna leksikal yang dibangun dari beberapa kata, yang tidak dapat dijelaskan lagi lewat makna kata-kata pembentuknya.
Ada dua macam bentuk idiom atau ungkapan, yaitu yang disebut idiom penuh dan idiom sebagian. Yang dimaksud dengan idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Bentuk-bentuk seperti membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau termasuk contoh idiom penuh.
Sedangkan yang dimaksud dengan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya, buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’; daftar hitam yang bermakna ‘daftar yang memuat nama-nama orang yang diduga atau dicurigai berbuat kejahatan’; dan koran kuning dengan makna ‘koran yang biasa memuat berita sensasi’. Pada contoh tersebut, kata buku, daftar, dan koran masih memiliki makna leksikalnya.
Ungkapan juga bersifat seperti bahasa pada umumnya. Ungkapan selalu berkembang mengikuti bahasa itu sendiri, seiring dengan perkembangan jaman. Sehingga menurut jaman ungkapan dapat dibagi menjadi dua, yaitu Ungkapan lama dan ungkapan baru. contoh-contoh ungkapan lama masih dapat kita jumpai pada jaman sekarang ini, seperti: matanya bagai bintang timur : bersinar atau tajam, rambutnya bagai mayang mengurai : ikal atau keriting, berminyak air : berpura-pura. Contoh Ungkapan baru, seperti: ranjau pers : undang-undang pers, berebut senja : siang berganti malam, ranum dunia : penyebab kesulitan.
Dalam komunikasi secara lisan ataupun tidak lisan, masyarakat sering menyelipkan sebuah ungkapan atau idiom dalam suatu komunikasi. Ini bertujuan untuk memperjelas suatu makna atau maksud tertentu.
Dalam ranah sastra, baik puisi ataupun prosa. Sering dibubuhi oleh ungkapan-ungkapan. Seumpama sayur yang dibubuhi banyak ramuan atau bumbu untuk menjadikannya nikmat. Dalam sastra ramuan itu sejenis dengan ungkapan. Sehingga karya itu menjadi hidup, sehingga pembaca dapat merasakan apa yang di ungkapkan oleh Si penulis atau penyair.
penyair dalam memandang bahasa. Bahasa, bagi seorang penyair adalah miliknya yang paling berharga. Dengan bahasa ia mengutuk atau mencaci maki dunia, tetapi juga dengan bahasa ia menyanyikan perasaannya atau mengembara dalam angan-angannya. Bahasa tidak pernah kering dalam jiwanya, setiap sentuhan, setiap situasi, setiap merasa dan mengagumi, dicobanya hendak ditemukan dalam bahasa. Itulah pentingnya bahasa bagi seorang penyair. Bahasa adalah nyawanya sendiri, jadi tidak seorangpun yang dapat memisahkan bahasa dengan penyair, karena sama halnya dengan mengambil nyawanya. Dalam penggunaan bahasa yang di godok oleh seorang penyair tersebut, dia sangat membutuhkan makana-makna yang di kaji semantik, seperti ungkapan itu sendiri. Contohnya dapat kita lihat dari cuplikan cerpen Sutarji Calzoum Bachri yang berjudul “Menulis” berikut,
“Nahar, mahasiswa yang jarang meninggalkan kamar, kutu buku, mengangguk dan merenungkan kata-kataku itu. Dinding kamarnya penuh buku-buku falsafah dan ilmu-ilmu yang berat lainnya dari berbagai bahasa,”. (“hujan menulis ayam”). Kutu buku dalam kalimat ini berarti rajin membaca buku.
Atau dari puisi Gugun gunawan yang berjudul “Bandung: dimana kau?” “Kau kini yang hilang, ‘tah kemana,Yang meninggalkan kenangan”, Pahit Negri ini (“Bandung dalam puisi”). Pahit negri ini, berarti suatu Negri yang miskin dan melarat.
Pada jaman sekarang ini ungkapan atau idiom sudah sering digunakan dalam media, baik media tertulis ataupun elektronik. Ungkapan sangat penting bagi perkembangan suatu media, yaitu untuk menarik minat dan menggugah nurani pembaca dan pendengar.Tapi sangat disayangkan jika diantara ungkapan-ungkapan yang sering di gunakan oleh mediator tersebut tak mampu diartikan oleh masyarakat, khususnya masyarakat awam. Sehingga mengakibatkan masyarakat tersebut acuh-tak acuh pada suatu berita atau tulisan yang diberikan.
Selain itu media tersebut tidak jarangmenggunakan suatu ungkapan yang kurang wajar, misalnya saja bahasa seksis yaitu bahasa yang mengandung kekerasan simbolik, yang di dalamnya terjadi pemaksaan secara halus posisi subordinasi dan rendah perempuan lewat bahasa (ternoda, tercela, tuna susila, binal, emosional). Kekerasan simbolik terhadap perempuan di dalam media pemberitaan tidak dapat dipisahkan, dan merupakan efek langsung, dari kekerasan yang dilakukan oleh penulis suatu berita terhadap bahasa itu sendiri, khususnya berupa ‘pemerkosaan bahasa’. Pemerkosaan bahasa, yaitu pemilihan kata-kata (diksi) serta penggunaan cara-cara pengungkapan, dengan msnggunakan makna-makna dalam semantik khususnya ungkapan. sebagaimana yang dikatakan Ricoeur, sehingga menciptakan “kegelapan semantik” atau ‘ketidakpastian makna yang terkandung dalam ungkapan’. Hal ini akan mengajak masyarakat khususnya kaum adam untuk memuji berita yang sangat rendahan itu.
Hal tersebut diataslah membuat ungkapan itu hanya sebuah bahasa biasa, yang kadang merusak bahasa dan masyarakat atau bahasa sastranya mati, lesu dan rusak. Ini menghambat perkembangan sebuah bahasa, khususnya bahasa Indonesia, karena tanpa makna-makna yang digarap oleh semantik, suatu bahasa akan sulit untuk bergerak. Ini juga akan berpengaruh kepada masyarakat Indonesia, mengenai pemakayan bahasa Indonesia, bukti nyatanya, pada jaman sekarang ini bahasa Indonesia telah didahului oleh bahasa inggris di Negrinya sendiri. Ini sangat bersifat fatal kepada garapan Sosiolinguistik pula, mengenai penutur bahasa Indonesia dalam Masyarakat.
Suatu hal yang harus dibedah lagi, khususnya kepada mereka yang mempunyai otoritas dalam memasyarakatkan bahasa Indonesia, seperti penulis, media masa, elektronik dan sebagainya, seharusnya memberikan suatu catatan kecil mengenai makna yang terkandung di dalam suatuungkapan yang mungkin belum bisa dicerna oleh masyarakat awam.